LKIS SDA 2011 TEK.LINGKUNGAN ITS FMIPA ITS 2011 LPIR SMP 2011 ITS BIOLOGI IMEC ITS 2011 HI GREAT UB LKIR Ke 43 2011 LIPI NYIA Ke 4 2011 LIPI OPSI 2011 Chemistry Carnival 2011 IPB Agrotek 2011 UM fs2t 2011 Geografi Unesa 2011
Sampul dan Judul Lembar Persetujuan Lembar Pengesahann Kata Pengantar Daftar Isi Abstraksi
Latar Belakang Rumusan Masalah Batasan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Format Bab Pendahuluan ... ? ? ?
Tahap Penyusunan Prinsip Tinjauan Pustaka Sumber Tinjauan Pustaka Contoh Format
Tempat dan Waktu Desain Penelitian Populasi dan Sampel Identifikasi Variabel Langkah Kerja Definisi Operasional Variabel Instrumen Penelitian Teknik Pengumpulan Data Teknik Analisa Data Format Metode Penelitian
Penyajian data verbal Penyajian data matematis Penyajian data visual Pembahasan Format Hasil penelitian
Kesimpulan Saran Format bab penutup
Perangkat 1 Perangkat 2 Perangkat 3
MARI BERKARYA DEMI MASA DEPAN UMAT MANUSIA

Selasa, 15 Maret 2011

CONTOH ANALISIS SWOT

Dalam beberapa lomba desain produk biasanya panitia meminta dalam proposal atau makalah ilmiah terdapat analisis SWOT. Sedangkan untuk siswa SMA/MA mungkin hal ini cukup sulit karena mereka belom mengenal analisis SWOT. Untuk mempermudah pemahaman tentang hal tersebut saya berikan contoh yang berasal dari artikel tentang KOPERASI, sehingga para siswa tinggal menyesuaikan (menambah dan mengurangi) dengan kondisi produk yang akan dihasilkan dari karyanya. semoga bermanfaat. ...amiin



Pengembangan koperasi dalam analisis SWOT menurut Freddy Rangkuti (1997) sub-sub bagian dari analisis SWOT meliputi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dengan berbagai indikator.

A. Kekuatan dengan indikator :

  1. Telah memiliki badan hukum.
  2. Stukur organisasi yang sesuai dengan eksistensi koperasi.
  3. Keanggotaan yang terbuka dan sukarela.
  4. Resiko kekurangan pelanggan cukup kecil.
  5. Biaya rendah.
  6. Kepengurusan yang demokratis.
  7. Banyaknya unit usaha yang dikelola.

B. Kelemahan dengan indikator :

  1. Lemahnya stuktur permodalan koperasi.
  2. Lemahnya dalam pengelolaan/manajemen usaha.
  3. Kurang pengalaman usaha.
  4. Tingkat kemampuan dan profesionalisme SDM koperasi belum memadai.
  5. Kurangnya pengetahuan bisnis para pengelola koperasi.
  6. Pengelola yang kurang inovatif.
  7. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan teknis dalam bidang usaha yang dilakukan.
  8. Kurang dalam penguasaan teknologi.
  9. Sulit menentukan bisnis inti.
  10. Kurangnya kesadaran anggota akan hak dan kewajibannya (partisipasi anggota rendah).

C. Peluang dengan indikator

  1. Adanya aspek pemerataan yang diprioritaskan oleh pemerintah.
  2. Undang-Undang nomor 25 tahun 1992, memungkinkan konsolidasi koperasi primer ke dalam koperasi sekunder.
  3. Kemauan politik yang kuat dari pemerintah dan berkembangnya tuntutan masyarakat untuk lebih membangun koperasi.
  4. Kondisi ekonomi cukup mendukung eksistensi koperasi.
  5. Perekonomian dunia yang makin terbuka mengakibatkan makin terbukanya pasar internasional bagi hasil koperasi Indonesia.
  6. Industrialisasi membuka peluang usaha di bidang agrobisnis, agroindustri dan industri pedesaan lainnya.
  7. Adanya peluang pasar bagi komoditas yang dihasilkan koperasi.
  8. Adanya investor yang ingin bekerjasama dengan koperasi.
  9. Potensi daerah yang mendukung dalam pelaksanaan kegiatan koperasi.
  10. Dukungan kebijakan dari pemerintah.
  11. Undang-Undang nomor 12 tahun 1992, tentang sistem budidaya tanaman mendorong diversifikasi usaha koperasi.
  12. Daya beli masyarakat tinggi.

D. Ancaman dengan indikator :

  1. Persaingan usaha yang semakin ketat.
  2. Peranan Iptek yang makin meningkat.
  3. Masih kurangnya kepercayaan untuk saling bekerjasama dengan pelaku ekonomi lain dan antar koperasi.
  4. Terbatasnya penyebaran dan penyediaan teknologi secara nasional bagi koperasi.
  5. Kurangnya kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang koperasi serta kurangnya kepedulian dan kepercayaan masyarakat terhadap koperasi.
  6. Pasar bebas.
  7. Kurang memadainya prasarana dan sarana yang tersedia di wilayah tertentu, misalnya lembaga keuangan, produksi dan pemasaran.
  8. Kurang efektifnya koordinasi dan sinkronasi dalam pelaksanaan program pembinaan koperasi antar sektor dan antar daerah.
  9. Persepsi yang berbeda dari aparat pembina koperasi.
  10. Lingkungan usaha yang tidak kondusif.
  11. Anggapan masyarakat yang masih negatif terhadap koperasi.
  12. Tarif harga yang ditetapkan pemerintah.
  13. Menurunnya daya beli masyarakat.


Sumber: http://fatmaambarsari.wordpress.com/2010/11/28/pengembangan-koperasi-dengan-pendekatan-analisis-swot/

2 komentar: