Showing posts with label LITERATUR. Show all posts
Showing posts with label LITERATUR. Show all posts

Thursday, 23 August 2018

BUKU: Panduan dalam Menyusun Karya Tulis Ilmiah Remaja





Buku ini bukan yang terbaik, tapi akan memberi kebaikan Di Negeri ini. Setelah membaca buku ini anda yang seorang guru akan lebih mudah dalam memberikan bimbingan pada siswanya untuk meraih juara dalam lomba karya ilmiah remaja. Jika anda seorang pelajar, maka anda akan dengan mudah melakukan langkah-langkah pembuatan karya ilmiah sampai menjadi juara tingkat regional maupun nasional. Sistematika yang penulis paparkan dalam buku ini adalah berdasarkan pengalaman dalam membimbing siswanya yang telah banyak meraih kejuaraan tingkat nasional. Ada contoh-contoh dalam setiap penyusunan bab dalam karya tulis ilmiah sangat membantu peneliti pemula dalam menuangkan hasil penelitiannya untuk menjadi makalah maupun artikel ilmiah. Dan masih banyak yang bisa anda dapatkan dari isi buku “Panduan dalam Menyusun Karya Tulis Ilmiah Remaja Untuk SMP/MTs dan SMA/MA”. Selanjutnya, silahkan anda untuk membelinya. 

Salam literasi, salam ilmiah dan salam berkarya.

Pembelian dan pemesanan Hub. Edi: 085 645 441 119, Wafi: 085 228 295 008

Judul Buku : Panduan dalam Menyusun Karya Tulis Ilmiah Remaja
Penulis : Edi Purwanto
Penerbit : Hhattulisstiwa
Tahun terbit : 2018
Ukuran Buku  A5
Kertas HVS putih 70gr
Tebal 100 halaman
Harga @ 30.000,-

Sunday, 6 November 2016

Inovasi Teknologi Pengolahan Biogas Sebagai Alternatif Energi Terbarukan dan Ramah Lingkugan

Oleh : Yusmar
Kondisi Kekinian dan Permasalahan di Indonesia
Energi yang paling banyak digunakan untuk aktifitas manusia adalah energi minyak bumi dan energi listrik. Energi minyak bumi yang banyak dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah minyak tanah, bensin dan solar. Energi diperlukan untuk pertumbuhan kegiatan industri, jasa, perhubungan dan rumah tangga (Widodo dkk, 2005). Permintaan kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia baik itu untuk keperluan industri, transportasi dan rumah tangga dari tahun ketahun semakin meningkat. Menyebabkan ketersediaan bahan bakar menjadi terbatas, atau harga menjadi melambung. Terkait dengan masalah tersebut, salah satu kebijakan pemerintah ialah dengan pemanfaatan limbah kotoran ternak sapi sebagai energi alternatif (biogas) skala rumah tangga yang ramah lingkungan untuk memenuhi keperluan rumah tangga itu sendiri.
Biogas merupakan salah satu dari banyak macam sumber energi terbarukan, karena energi biogas dapat diperoleh dari air buangan rumah tangga, kotoran cair dari peternakan ayam, sapi, babi, sampah organik dari pasar, industri makanan dan limbah buangan lainnya. Produksi biogas memungkinkan pertanian berkelanjutan dengan sistem proses terbarukan dan ramah lingkungan. Pada umumnya, biogas terdiri atas gas metana (CH4) sekitar 55-80%, dimana gas metana diproduksi dari kotoran hewan yang mengandung energi 4.800-6.700 Kcal/m3, sedangkan gas metana murni mengandung energi 8.900 Kcal/m3. Sistem produksi biogas mempunyai beberapa keuntungan seperti: (a) mengurangi pengaruh gas rumah kaca, (b) mengurangi polusi bau yang tidak sedap, (c) sebagai pupuk, dan (d) produksi daya dan panas (Sri Wahyuni, 2009).
Pengolahan kotoran sapi menjadi energi alternatif biogas yang ramah lingkungan merupakan cara yang sangat menguntungkan, karena mampu memanfaatkan alam tanpa merusaknya sehingga siklus ekologi tetap terjaga. Selain mendapatkan energi alternatif pengganti BBM pembuatan biogas dapat mendukung usaha tani penyediaan pupuk organik sehingga mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, sehingga ada kemandirian dalam penyediaan pupuk. Limbah kotoran sapi untuk dua ekor sapi mampu menghasilkan biogas yang bisa dimanfaatkan untuk memasak sama dengan dua liter minyak tanah. Sehingga bila ditotalkan dalam satu tahun, masyarakat bisa menghemat hingga jutaan rupiah.
Teknologi kotoran sapi  sangat membantu peternak, selain memenuhi kebutuhan energi sendiri  juga bisa mendapatkan dari penjualan pupuk. Limbah pengolahan biogas kotoran sapi, baik yang padat maupun yang cair sangat cocok atau bagus untuk dijadikan pupuk tanaman, baik itu untuk tanaman bunga hias dan  lainnya. Secara teknis, prinsip pembuatan biogas adalah memanfaatkan gas metana, yaitu gas yang mudah terbakar  yang terdapat didalam kotoran sapi dimana dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar, terutama untuk konsumsi keluarga. Untuk itu, tentu selain perlu adanya hewan sapi sebagai pemasok kotoran, juga perlu sarana penampungan kotoran itu agar dapat berproses menghasilkan gas metana.
Teknologi Biogas sudah cukup mapan dan terbukti dapat memproduksi energi non BBM yang sekaligus ramah lingkungan.biogas termasuk teknologi yang memiliki efisiensi tinggi tinggi dan ramah lingkungan karena residu proses biogas juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk berkualitas tinggi dan mengurangi efek rumah kaca. Dari sudut pandang itulah dapat disimpulkan bahwa teknologi biogas termasuk teknologi ramah lingkungan.
Tangki penampung kotoran hewan  terbuat dari fibreglass  yang disebut Biodigester. Didalam Biodigester yang tertutup rapat, kotoran hewan diencerkan dengan air. Ini untuk mempercepat proses keluarnya gas dari kotoran hewan. Dengan memanfaatkan tekanan gas di dalam Biodigester, gas metan yang terbentuk dialirkan ke penampungan gas. Tempat penampungan gas itu ada berupa kantong plastik berukuran besar, tapi ada pula berbentuk tabung dari fibreglass. Dari wadah penampungan ini, gas metan dapat dialirkan langsung ke kompor yang ada di dapur. Oleh karena itu perlu dirancang sebuah inovasi teknologi pembuatan biogas sebagai alternatif energi terbarukan dan ramah lingkugan.
Manfaat Biogas bagi Kehidupan Manusia
Dalam perkembangannya biogas di Indonesia mulai banyak dikembangkan oleh penduduk desa mereka memanfaatkan seperti limbah pertanian dan peternakan yang mereka miliki menjadi bahan bakar gas. Pada umumnya,biogas dimanfaatkan pada skala rumah tangga, namun tidak menutup kemungkinan untuk dimanfaatkan pada skala yang lebih besar (komunitas). Beberapa keuntungan bagi rumah tangga dan komunitas antara lain:
1.     Mengurangi penggunaan bahan bakar lain (minyak tanah, kayu, dsb) oleh rumah tangga atau komunitas
2.     Menghasilkan pupuk organik berkualitas tinggi sebagai hasil sampingan
3.     Menjadi metode pengolahan sampah (raw waste) yang baik dan mengurangi pembuangan sampah ke lingkungan (aliran air/sungai)
4.     Meningkatkan kualitas udara karena mengurangi asap dan jumlah karbodioksida akibat pembakaran bahan bakar minyak/kayu bakar
5.     Secara ekonomi, murah dalam instalasi serta menjadi investasi yang menguntungkan dalam jangka panjang.


Solusi
Salah Satu solusi berdasarkan permasalah diatas dengan membuat suatu inovasi teknologi pengolahan limbah feses ternak menjadi biogas dengan bentuk penampungan pada tabung gas sebagai bahan bakar alternatif ramah lingkungan untuk mengatasi permasalahan masyarkat khususnya rumah tangga dan dapat dijadikan suatu usaha entrepreneur.
Inovasi teknologi ini, muncul sebuah harapan untuk menjadi salah satu solusi alternatif bahan bakar terbarukan dan ramah lingkungan yang dapat meringankan operasi beban masyarakat khususnya pada rumah tangga untuk kelangsungan hidup mereka. Selain itu, inovasi teknologi ini dapat mengubah pandangan dunia Internasional yang melihat bahwa Indonesia adalah negara yang tidak bergantung pada sumber bahan bakar fosil. Namun tujuan utama dari inovasi teknologi ini adalah merancang sebuah penampungan biogas dalam bentuk tabung gas, sehingga diharapkan dapat mengatasi biaya operasional yang mahal dalam memenuhi keperluan rumah tangga dan  dapat dijadikan suatu usaha entrepreneur bagi masyarakat umum. Selain itu, inovasi teknologi ini mampu mengurangi polusi dengan penggunaan energi alternatif ramah lingkungan berbasis sel bahan bakar tersebut.
Kesimpulan
Dengan pemaparan solusi dan teknik inovasi dan realisasi di atas terhadap permasalahan yang dihadapi, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa inovasi teknologi biogas dapat menjadi salah satu alternatif dan solusi atas permasalahan yang terjadi pada masyarakat umum khususnya rumah tangga.
Biogasdapat menjadi salah satu sumber energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar konvensional yang masih bergantung pada minyak bumi. Penerapan dari Inovasi Teknologi biogassendiri tidak terlalu sulit mengingat piranti yang dibutuhkan cukup sederhana, namun disini mungkin akan terkendala oleh pembuatan tabung gas yang masih sulit karna inovasi teknogi ini terbilang baru di Indonesia. Selain itu, untuk penggunaan dalam skala besar dan luas di masyarakat, akan lebih efektif dan efisien jika ditambahkan dengan inovasi untuk penyuplai hidrogen tanpa harus menggunakan bahan baku gas metana.
Diharapkan nantinya ada tindak lanjut dari pemerintah tentang inovasi teknologi biogas pada masyarakat luas mengingat urgenitas dan kebutuhan para masyarakat

Sumber : http://epsilon.ft.ugm.ac.id/2015/11/19/inovasi-teknologi-pengolahan-biogas-sebagai-alternatif-energi-terbarukan-dan-ramah-lingkugan/

Monday, 14 March 2016

Semut Rangrang



Semut adalah serangga eusosial yang berasal dari keluarga  Formicidae, semut termasuk  dalam  ordo  Hymenoptera  bersama  dengan  lebah  dan  tawon.  Semut  terbagi atas lebih dari 12.000 kelompok, dengan perbandingan jumlah yang besar di kawasan tropis. Semut dikenal dengan koloni dan sarang-sarangnya yang teratur, yang terkadang terdiri dari ribuan semut per koloni. Jenis semut dibagi menjadi semut pekerja, semut prajurit, semut pejantan, dan ratu semut. Semut telah menguasai hampir seluruh bagian tanah di Bumi. Hanya di beberapa tempat  seperti  di  Islandia,Greenland  dan  Hawaii,  mereka  tidak  menguasai  daerah tersebut. Di saat jumlah mereka bertambah, mereka dapat membnetuk sekitar 15 - 20% jumlah biomassa hewan-hewan besar.
Tubuh  semut  terdiri  atas  tiga  bagian,  yaitu  kepala, mesosoma  (dada),  dan metasoma  (perut).  Morfologi  semut  cukup  jelas  dibandingkan  dengan  serangga  lain yang  juga  memiliki  antena,  kelenjar  metapleural,  dan  bagian  perut  kedua  yang berhubungan  ke  tangkai  semut  membentuk  pinggang  sempit  (pedikel)  di  antara mesosoma  (bagian  rongga  dada  dan  daerah  perut)  dan  metasoma  (perut  yang  kurang abdominal segmen dalam petiole). Petiole yang dapatdibentuk oleh satu atau dua node (hanya yang kedua, atau yang kedua dan ketiga abdominal segmen ini bisa terwujud).
Tubuh  semut,  seperti  serangga  lainnya,  memiliki  eksoskeleton  atau  kerangka luar  yang  memberikan  perlindungan  dan  juga  sebagai  tempat  menempelnya  otot, berbeda  dengan  kerangka  manusia  dan  hewan  bertulang belakang.  Serangga  tidak memiliki paru-paru, tetapi mereka memiliki lubang-lubang pernapasan di bagian dada bernama  spirakel  untuk  sirkulasi  udara  dalam  sistem respirasi  mereka.  Serangga  juga tidak  memiliki  sistem  peredaran  darah  tertutup.  Sebagai  gantinya,  mereka  memiliki saluran  berbentuk  panjang  dan  tipis  di  sepanjang  bagian  atas  tubuhnya  yang  disebut "aorta punggung" yang fungsinya mirip dengan jantung. Sistem saraf semut terdiri dari sebuah semacam otot saraf ventral yang berada di sepanjang tubuhnya, dengan beberap
Salah  satu  jenis  semut  yang  banyak  digunakan  dalam  mengendalikan  hama pertanian  antara  lain  jenis  semut  rang­rang (Oecophylla  smaragdina).  Semut  rang­rang adalah semut yang dominan di hutan terbuka dari India, Australia, Cina dan Asia  Tenggara,  yang  daun  sarang  yang  diselenggarakan  bersama­sama  dengan  sutra larva.  Semut  rang­rang telah  penting  dalam  penelitian  tentang  integrasi  kontrol, komunikasi,  teritorial  dan  koloni  biologis  serta  pengendalian  biologis  pada  hama pertanian  atau  perkebunan.  Semut  rangrang  (Oecophylla  smaragdina)  merupakan serangga eusosial (sosial  sejati),  dan  kehidupan  koloninya  sangat  tergantung  pada keberadaan  pohon (arboreal).

Oleh : Edi Purwanto


Sumber: SUHARA 2009. Semut Rangrang, Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Pendidikan Matematika Dan Ipa Universitas Pendidikan Indonesia 

Sunday, 6 March 2016

Semut Hitam

Semut adalah serangga yang termasuk dalam famili Formicidae dan ordo Hymenoptera.  Semut meliputi lebih dari 12.000 jenis dan sebagian besar hidup di kawasan tropis.  Sebagian besar semut dikenal sebagai serangga sosial, dengan koloni dan sarang-sarangnya yang teratur beranggotakan ribuan semut per koloni.  Anggota koloni terbagi menjadi semut pejantan, ratu semut, dan semut pekerja (Pracaya, 2005).
Tubuh semut memiliki 3 bagian utama yaitu caput (kepala), thorax (dada), dan abdomen (perut).  Pada beberapa spesies semut, pada bagian abdomen sering ditemukan node (penggentingan) yang merupakan ruas ke 2 dan ke 3 abdomen.

Tubuh semut memiliki exoskeleton atau kerangka luar yang memberikan perlindungan dan juga sebagai tempat menempelnya otot.  Semut memiliki lubang-lubang pernapasan di bagian dada yang bernama spirakel untuk sirkulasi udara dalam sistem respirasi (Borror et al., 1992).

Camera Oppo, Iso 100, fl 3mm, f/2.2

Thursday, 3 March 2016

Menilik Potensi Sang Putri Malu



Oleh: Vikayanti, S.Si
POPT Muda Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya

Putri  malu  (Mimosa  pudica),  merupakan  tanaman  herba  unik dari  kelas magnoliopsida.  Menurut Setiawati (2008), tanaman asli Amerika  tropis  ini mempunyai banyak  nama  sebutan,  di Jawa  disebut  sebagai kucingan, di Minahasa disebut rebah  bangun,  di  Menado disebut  sebagai daun  kaget, dan di Sunda disebut sebagai si kejut. Dalam bahasa Inggris sang Putri Malu sering disebut sebagai Sensitive Plant Spray.
Tanaman  putri  malu merupakan  herba  memanjat dengan ciri-ciri tinggi  kurang lebih  0,3-1,5m,  batang  bulat, berambut  dan  berduri tempel. Rambut  sikat  pada  batang mengarah  ke  bawah.  Daun kecil-kecil  tersusun  majemuk berbentuk  lonjong,  ujung lancip dan berwarna hijau. Bunga berbentuk bulat seperti bola, warna merah muda. Buah berbentuk polong, pipih. Biji juga bulat dan pipih, akar berupa akar pena yang kuat.
Putri  malu  tumbuh  liar  ditepi-tepi  jalan,  diarea  terbuka  dan  terkena  sinar matahari. Tanaman  ini  mudah  sekali dikenal karena  secara  cepat  daunnya  akan menutup/layu  dengan  sendirinya  ketika  disentuh.  Kondisi  ini  hanya  bersifat sementara karena setelah beberapa menit keadaannya akan pulih seperti semula.
Keunikan  dari  perdu  anggota  suku  polong-polongan  ini  dapat  terjadi  oleh karena  perubahan  turgor  pada  tulang  daun, sehingga  daun  dapat  menutup  ketika disentuh,  ditiup  atau  dipanaskan. Gerak  pada putri  malu  ini  sering  disebut  dengan seismonasti (Wikipedia, 2014).
Pada waktu-waktu tertentu, seperti pada saat  matahari terbenam, sang putri ini juga mengatupkan daunnya dan akan merekah kembali pada saat matahari terbit. Disamping itu tanaman ini juga akan menutup daunnya ketika hewan herbivora ingin memakannya.  Hewan  menjadi  tidak  berminat  untuk  memakannya  karena  daun menjadi layu dan pucat, seperti tidak segar lagi.Apabila  kita  perhatikan  secara  seksama,  Putri  malu  memiliki beberapa fakta yang menarik. Pertama, putri malu sangat invasiv terhadap tanaman lain dimana dia hidup,  artinya putri  malu  dapat  berkembang  dengan cepat  melebihi  populasi tanaman lain. Kedua, putri malu tahan terhadap cekaman abiotik, bila kita perhatikan disaat  kondisi  kekurangan  air,  dia  mampu  tumbuh  dengan  baik.  Seandainya tanaman tersebut di tebang/dipotong sekalipun, akan tetap kembali survive.
Menilik dari  fakta  tersebut,  pasti  ada  sesuatu  yang  luar  biasa  di  area  perakaran  sehingga mampu memberi hidup bagi sang putri.Dalam perakaran putri malu terdapat bintil-bintil akar yang mengandung koloni mikroba  yang  bersimbiosis  mutualisme  dengan  akar putri malu  tersebut.  Beberapa mikroba yang terkandung dalam akar putri malu antara lain :
  1. Rhizobium, merupakan bakteri gram negativ yang bersimbiosis dengan inang tertentu. Mikroba ini menginfeksi akar sehingga timbul bintil akar (seperti pada suku leguminosa). Rhizobium  mampu  menambat  nitrogen,  melarutkan  fosfat dan kalium sekaligus, sehingga putri malu selalu nampak hijau dalam kondisi tanah kritis sekalaipun.
  2. Bacillus  sp.  bakteri  ini  mampu  melarutkan  fosfat  dan  kalium  serta menghasilkan  zat  pengatur  tumbuh  tanaman  dan  menekan  perkembangan mikroba pathogen.
  3. Pseudomonas putida merupakan salah satu strain bakteri yang terdapat pada perakaran putri malu.  Bakteri  ini  mampu  menekan  serangan  penyakit  layu bakteri pada tanaman tembakau di Sumatera Utara.
  4. Actinomycetes,  merupakan  bakteri  yang  memiliki  kemampuan  untuk menghasilkan  antibiotik.  Bakteri  ini  banyak  terdapat  pada  perakaran putri malu. Dalam pengendalian  hayati putri  malu  juga  banyak  dimanfaatkan  sebagai pestisida nabati. Bagian tanaman yang dimanfaatkan sebagai pestisida nabati yaitu akar,  batang  dan  daun.  Menurut  Setiawati,dkk  (2008),  kandungan  kimia  dari tanaman  ini  adalah  senyawa  mimosin,  asam  pipekolinat,  tannin,  alkaloid,  saponin, triterpenoid,  sterol,  polifenol  dan  flavonoid.  Kandungan  senyawa  inilah  yang kemudian  dimanfaatkan  sebagai  pestisida  nabati. Dari  beberapa  hasil  penelitian ekstrak  akar  dan  daun  putri  malu  ternyata  mampu  mengendalikan  penyakit atraknosa,dan alternaria. Aplikasi ekstrak akar Mimosa pudica pada tanaman cabai ternyata  dapat  menekan  insidensi  penyakit  pada  buah  dan  mampu  menekan keparahan penyakit pada daun dan buah.

Dalam  dunia  farmasi  ekstrak  putri  malu  juga mampu mengatasi  imsomnia, bronchitis, panas tinggi, rematik dan cacingan. Ternyata begitu banyak yang dapat kita gali dari si pemalu ini, oleh karena itu jangan remehkan keberadaannya, meski merupakan tanaman liar tetapi punya potensi luar biasa.

Pustaka
Anonim,    ,  PGPR  dari  Akar  Putri Malu, http://ceritanurmanadi.wordpress.com diakses tanggal 15 Oktober 2014, jam 12.00 wib.
Anonim, 2014, Putri Malu, http://id.wikipedia.org/wiki/Putri_malu diakses tanggal 15 Oktober 2014, jam 11.15 wib.
Setiawati,  Murtiningsih,  Gunaeni  dan  Rubati,  2008. Tumbuhan  Bahan  Pestisida
Nabati  dan  Cara  Pembuatannya  Untuk  Pengendalian  Organisme

Pengganggu  Tumbuhan  (OPT),  Balai Penelitian  Tanaman  Sayuran.  Hlm. 153.

Friday, 5 February 2016

Capung (Odonata)

Camera : Oppo mirror 5,  ISO-100, fl 3mm, no flash, 

Capung (Odonata) banyak dijumpai di ekosistem persawahan (Shepard et al, 1992), sehingga memiliki peranan penting pada ekosistem tersebut. Capung dapat berfungsi sebagai serangga predator, baik dalam bentuk nimfa maupun dewasa, dan memangsa berbagai jenis serangga serta organisme lain termasuk serangga hama tanaman padi, seperti: penggerek batang padi (Chilo  sp),  wereng  coklat  (Nilaparvata  lugens), dan walang  sangit (Laptocorisa acuta) (Borror et al., 1992; Shepard et al, 1992).
Selain itu, capung dapat dijadikan sebagai indicator kualitas  ekosistem  (Jhon, 2001).  Hal  ini  dikarenakan  capung  memiliki  2  habitat  :  air  dan udara.  Odonata  dewasa  betina  dalam  melakukan  oviposisi  memilih  habitat  perairan  yangjernih dan bersih, serta nimfa rentan terhadap kualitas air terpolusi (Borror et al., 1992; Jhon,2001).
Odonata  adalah  kelompok  serangga  yang  berukuran  sedang  sampai  besar  dan  seringkali berwarna  menarik.  Serangga  ini  menggunakan sebagian besar  hidupnya  untuk  terbang. Capung  juga  memiliki  tubuh  yang  langsing  dengan  dua  pasang  sayap,  dan  memiliki pembuluh  darah jala.  Selain  itu  capung  juga  memiliki  antenna  pendek  yang  berbentuk rambut, kaki yang berkembang baik, alat mulut tipe pengunyah, mata majemuk yang besar, abdomen panjang dan langsing (Boror et al., 1992).
Habitat capung menyebar luas, di hutan-hutan, kebun, sawah, sungai dan danau, hingga ke pekarangan rumah  dan  lingkungan perkotaan. Ditemukan  mulai  dari  tepi pantai hingga ketinggian lebih dari 3.000 m dpl. Beberapa jenis capung, umumnya merupakan penerbang yang  kuat  dan  luas  wilayah  jelajahnya.  Beberapa  jenis  yang  lain  memiliki habitat yang spesifik dan wilayah hidup yang sempit (Wikipedia Indonesia, 2006).
Capung (Odonata) juga memiliki karakter yang istimewa yaitu dapat melakukan perkawinan di  udara  dalam  berbagai cara. Sebelum  kawin,  serangga  jantan  akan  membengkokkan perutnya ke arah depan dan menyalurkan spermatozoa ke dalam organ seperti kantung kemih pada sternite kedua  dari  perut.  Dalam  perkawinan,  serangga  jantan  menggunakan terminal classper yang  dimillikinya   untuk  memegang  serangga  betina  pada  daerah  sekitar  leher, serangga betina kemudian akan membengkokkan perutnya ke arah depan menuju ke sternite kedua dari perut serangga jantan, yang merupakan tempat terjadinya transfer spermatozoa ke tubuh  betina  yang sebenarnya. Mekanisme  ini  tidak  ditemukan  pada  serangga  ordo  lain (Borror et al., 2002).
Betina  akan  meletakkan  telurnya  pada  pada tumbuhan yang  berada  di  air.  Beberapa  jenis Odonata  menyukai  air  yang  menggenang  untuk  menaruh  telurnya,  beberapa  jenis  yang lainnya menyukai air  yang agak deras. Telur tersebut akan menetas menjadi nimfa melalui proses  metamorfosis  tidak  sempurna.  Nimfa  merupakan  makhluk  kecil  yang  diperkirakan terdiri dari 10-13 instar (Paulson, 2004). Nimfa memiliki bentuk tubuh yang berbeda dengan bentuk  dewasanya, yaitu mempunyai  sepasang  mata  yang  besar,  kaki  yang  berkembang dengan  baik  dan  bagian  mulut   yang  dipergunakan  untuk  menangkap  dan  mengigit mangsanya.  Nimfa  tersebut akan  matang  dalam  waktu  satu  tahun.  Pada  spesies  yang  lebih besar, perkembangan dapat mencapai waktu dua sampai empat tahun. Ketika telah mencapai titik  tumbuh  maksimal, nimfa  akan  merayap  menuju  kepermukaan  air  dan  menempel  pada sebuah tongkat, batang, atau objek lainnya untuk melakukan pergantian kulit yang terakhir. Serangga dewasa  yang baru terbentuk ini akan mengalami pengerasan dan pewarnaan kulit dalam waktu yang relatif lambat, beberapa spesies memerlukan waktu satu sampai dua hari untuk melakukan proses ini (Borror et al., 1992).
Nimfa Odonata semuannya adalah akuatik (Corbet, 1995), terutama hidup pada kolam, danau atau hulu sungai dan makan berbagai macam organisme akuatik yang kecil. Biasanya mereka tinggal  menunggu  korban-korban  mereka,  yang lainnya  tinggal  pada  tumbuhan  atau  ada  di dalam  lumpur.  Nimfa  memiliki mulut  tipe  pengunyah,  dengan  pemanjangan  dan  sebuah engsel  untuk  membentuk  suatu  organ  penangkap  yang  kuat  untuk  membunuh  mangsanya. Selain itu nimfa juga mempunyai kaki yang kuat, dan insang yang bergerigi di dalam rektum. Nimfa-nimfa ini berenang karena goyangan tubuhnya, dan insang yang berfungsi seperti ekor ikan. Nimfa capung bernapas dengan cara menarik air ke dalam rektum melalui dubur dan kemudian membuangnya (Borror et al., 1992).
Beberapa  penelitian  mengenai  Odonata  telah  banyak  dilakukan,  diantaranya  penelitian mengenai  keanekaragaman  Odonata  dan  hubungannya  dengan  ekosistem  dan  penggunaan lahan di Semenanjung Utara Malaysia (Siregar et al., 2004), juga penelitian kehadiran nimfa Odonata  di  berbagai  habitat  persawahan  Ahmad  (1982).  Penelitian  tersebut  lebih menekankan pada faktor lingkungan yang mempengaruhi populasi Odonata. Beberapa aspek lain,  seperti  hubungan  populasi  Odonata  dengan  fenologi  padi  (perkembangan  tanaman) belum banyak dikaji.
Populasi  Odonata  juga  dipengaruhi  oleh  faktor  abiotik  dalam  perkembangan  hidupannya, seperti  penggunaan  insektisida.   Insektisida  yang  digunakan  secara  tidak  langsung  dapat berdampak  pada  populasi  Odonata.  Hal  ini  telah  dilaporkan  Kobayashi  (1961),  dalam Asahina et al., 1970; dalam Ahmad 1982, yang menyatakan bahwa Odonata merupakan salah satu predator insekta yang mengalami kerugian hebat akibat penggunaan insektisida terhadap penggerek  batang  padi.  Asahina et  al.,  1970  dalam  Ahmad  1982 juga  melaporkan  bahwa akibat penggunaan insektisida terhadap penggerek batang padi yang dilakukan tahun 1955-1959 di Jepang, mengakibatkan populasi Odonata mengalami penurunan yang drastis.

Sumber: Irwandi Ansori, KEANEKARAGAMAN NIMFA ODONATA (Dragonflies) DI BEBERAPA PERSAWAHAN SEKITAR BANDUNG JAWA BARAT, Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan PMIPA FKIP UNIB